Minggu, 06 Agustus 2017

Pengertian, Struktur, dan Contoh-contoh Teks Cerita Sejarah


Pelajaran 1
Teks Cerita Sejarah

Kota Pontianak Temoe doloe
A.   Pengertian teks cerita sejarah
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sejarah diartikan sebagai asal usul (keturunan) silsilah; kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa lampau; pengetahuan atau uraian tentang peristiwa dan kejadian yang benar-benar terjadi pada masa lampau; ilmu sejarah. Sumber lain menyebutkan bahwa sejarah adalah catatan peristiwa masa lampau.
Sejarah merupakan bagian hidup yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia hingga saat ini. Seseorang perlu memahami sejarahnya agar dia dapat memiliki landasan untuk menentukan masa depannya.
Menurut Ongkos Kosasih (7:1995), teks cerita sejarah merupakan teks yang didalamnya menjelaskan dan menceritakan tentang fakta dan kejadian masa lalu yang menjadi asal muasal atau latar belakang terjadinya sesuatu yang memiliki nilai sejarah.
Selain mengandung rekaman peristiwa di masa lalu, teks cerita sejarah didahului oleh pengenalan tentang peristiwa yang akan diceritakan. Teks cerita sejarah ditutup dengan suatu akibat, kesimpulan, atau penilaian terkait dengan rekaman peristiwa yang diuraikan sebelumnya. Teks sejarah tergolong ke dalam genre teks naratif sepeerti halnya novel yang di  dalamnya terdapat unsur penokohan, alur, atau rangkaian peristiwa, serta akhir cerita.

B.   Struktur Teks Cerita Sejarah
Struktur teks merupakan gambaran cara teks tersebut dibangun.
  1. Orientasi, merupakan bagian pengenalan atau pembuka dari teks cerita sejarah.
  2. Urutan Peristiwa, merupakan rekaman peristiwa sejarah yang terjadi, yang biasanya disampaikan dalam urutan kronologis dan disampaikan secara naratif.
  3. Reorientasi, berisi komentar pribadi penulis tentang peristiwa atau kejadian sejarah yang diceritakan. Ditutup dengan menguatarakan akibat, kesimpulan, atau penilaian terkait dengan rekaman peristiwa yang diuraikan sebelumnya Bagian ini merupakan tahapan yang bersifat pilihan, artinya boleh saja bagian ini tidak disajikan oleh penulis teks cerita sejarah.
Bacalah teks cerita sejarah berikut ini!

Sejarah Berdirinya SMA Santu Petrus
Gedung SMA Katolik Santu Petrus tempo doeloe

                SMA Santu Petrus merupakan salah satu persekolahan Katolik yang berdiri di bawah naungan Yayasan Pendidikan Kalimantan Barat. Bangunan sekolah ini terletak di Jalan Karel Satsui Tubun N0.3 Pontianak, Kalimantan Barat.
Sejarah berdirinya SMA Santu Petrus bermula dari kedatangan enam pastor muda Congregatio Discipulorum Domini atau Kongregasi Murid-Murid Tuhan di Pontianak tahun 1949 yang berasal dari Tiongkok. Mereka berenam datang atas undangan Vikaris Apostolik Mgr. Tarcisius van Valenberg, O.F.M. Cap. untuk membantu layanan pastoral bagimasyarakat Tionghoa di Pontianak.
Setelah beberapa bulan berada dan berkarya di tengah-tengah masyarakat Pontianak, hati mereka risau menyaksikan kaum muda Pontianak yang membutuhkan uluran tangan-tangan kasih dari pendidik. Batin mereka terpanggil membantu dan menyelamatkan jiwa-jiwa muda yang rawan bahaya. Mereka lalu berpikir bagaimana caranya membantu kaum muda itu agar mengikuti proses pertumbuhannya menjadi pribadi-pribadi yang utuh, beriman, setia, berwawasan dan terampil dalam hidup.
Melihat layanan pastoral umum parokial belum mencukupi untuk mengatasi masalah ini secara utuh, pikiran mereka fokus pada layanan pastoral kategorial sekolah. Mereka yakin layanan sekolah sanggup membekali seseorang dengan setumpuk kecakapan hidup yang memadai dan utuh. Opsi ini membawa persoalan baru, mereka tidak mempunyai dana untuk membangun sekolah. Itulah cita-cita mulia enam pastor muda CDD ini. Tetapi cita-cita itu menjadi sebuah program nyata. Masyarakat tergerak hatinya dan rela menyisihkan sebagian dari kekayaan untuk disumbangkan demi pembangunan dan operasional sekolah.
Pada 1950, berdiri dan beroperasi sebuah SMP berbahasa Mandarin dengan nama Pontianak Middle School atau Kun Tian Chung Sie, yang disingkat menjadi Kunzhong. Kini Kunzhong mewakili PG-TKK, SD, SMP, SMA, SMK dan RRC Sui Ambawang. Kunzhong perdana ini berdiri di Jalan Cempaka (kini Jalan Juanda), diasuh Pastor Ma, CDD dibantu oleh Panitia Pendidikan Kunzhong yang diketuai Ng Ngiap Liang.
Pada 1964, Yayasan Pendidikan Kalimantan resmi berdiri. Yayasan ini diketuai dr. Bong Muk Siong. SMP/SMA Kalimantan diubah menjadi SMP/SMA Santu Petrus. Tahun 1994, Pastor Lodewijk Tshie CDD memegang estafet pertama karya pastoral generasi muda CDD bagi Kunzhong. Kepemimpinan Pastor Lodewijk gencar melaksanakan pembenahan dan pengembangan Kunzhong. Lembaga itu mendirikan SMK Santa Maria, Rumah Retret Costantini, Gedung Sentra Belajar dan Gedung Aula Besar di Jalan KS Tubun serta Gedung PG-TKK-SD di Jalan Juanda.
Hingga saat ini, sekolah SMA Katolik Santu Petrus masih terus berjaya melahirkan lulusan-lulusan terbaik. Sekolah ini masih tergolong kedalam sekolah Favorit yang memiliki akriditasi A. Banyak sekali prestasi yang diraih oleh siswa dan guru baik di tingkat nasional maupun di tingkat internasional.

                Dengan melihat contoh di atas, salah satu bagian dari teks cerita sejarah didahului dengan pengenalan peristiwa sejarah yang akan diceritakan. Selanjutnya, dipaparkan rangkaian peristiwa penting sebagai suatu rekaman masa lalu. Rangkaian peristiwa tersebut tersusun secara kronologis atau mengikuti urutan waktu. Mungkin pula urutannya itu divariasikan dengan pola hubungan sebab akibat (kausalitas).
Berikut ini akan dipaparkan mengenai struktur teks laporan hasil observasi “Sejarah Beridirnya SMA Santu Petrus”.
Struktur Teks Cerita
Sejarah SMA Santu Petrus
P-
Ke-
Isi Paragraf
Pokok Informasi
Struktur teks
1
SMA Santu Petrus merupakan salah satu persekolahan Katolik yang berdiri di bawah naungan Yayasan Pendidikan Kalimantan Barat. Bangunan sekolah ini terletak di Jalan Karel Satsui Tubun N0.3 Pontianak, Kalimantan Barat.
SMA Santu Petrus berdiri di bawah naungan Yayasan Pendidikan Kalimantan Barat
orientasi
2
Sejarah berdirinya SMA Santu Petrus bermula dari kedatangan enam pastor muda Congregatio Discipulorum Domini atau Kongregasi Murid-Murid Tuhan di Pontianak pada tahun 1949 yang berasal dari Tiongkok. Mereka berenam datang atas undangan Vikaris Apostolik Mgr. Tarcisius van Valenberg.
Kedatangan enam pastor muda CDD di Pontianak pada    tahun 1949.
Urutan peristiwa
3
Setelah beberapa bulan berada dan berkarya di tengah-tengah masyarakat Pontianak, hati mereka risau menyaksikan kaum muda Pontianak yang membutuhkan uluran tangan-tangan kasih dari pendidik. Batin mereka terpanggil membantu dan menyelamatkan jiwa-jiwa muda yang rawan bahaya. Mereka lalu berpikir bagaimana caranya membantu kaum muda itu agar mengikuti proses pertumbuhannya menjadi pribadi-pribadi yang utuh, beriman, setia, berwawasan dan terampil dalam hidup.

Para pastor muda berpikir bagaimana cara menyelesaikan masalah kaum muda.
Urutan peristiwa
4
Melihat layanan pastoral umum parokial belum mencukupi untuk mengatasi masalah ini secara utuh, pikiran mereka fokus pada layanan pastoral kategorial sekolah. Mereka yakin layanan sekolah sanggup membekali seseorang dengan setumpuk kecakapan hidup yang memadai dan utuh. Opsi ini membawa persoalan baru, mereka tidak mempunyai dana untuk membangun sekolah. Itulah cita-cita mulia enam pastor muda CDD ini. Tetapi cita-cita itu menjadi sebuah program nyata. Masyarakat tergerak hatinya dan rela menyisihkan sebagian dari kekayaan untuk disumbangkan demi pembangunan dan operasional sekolah.
Pembangunan dan operasional sekolah
Urutan peristiwa
5
Pada 1950, berdiri dan beroperasi sebuah SMP berbahasa Mandarin dengan nama Pontianak Middle School atau Kun Tian Chung Sie, yang disingkat menjadi Kunzhong. Kini Kunzhong mewakili PG-TKK, SD, SMP, SMA, SMK dan RRC Sui Ambawang. Kunzhong perdana ini berdiri di Jalan Cempaka (kini Jalan Juanda), diasuh Pastor Ma, CDD dibantu oleh Panitia Pendidikan Kunzhong yang diketuai Ng Ngiap Liang.
Berdirinya sebuah SMP berbahasa Mandarin dengan nama Pontianak Middle School atau Kun Tian Chung Sie (Kunzhong) pada tahun 1950.
Urutan peristiwa
6
Pada 1964, Yayasan Pendidikan Kalimantan resmi berdiri. Yayasan ini diketuai dr. Bong Muk Siong. SMP/SMA Kalimantan diubah menjadi SMP/SMA Santu Petrus. Tahun 1994, Pastor Lodewijk Tshie CDD memegang estafet pertama karya pastoral generasi muda CDD bagi Kunzhong. Kepemimpinan Pastor Lodewijk gencar melaksanakan pembenahan dan pengembangan Kunzhong. Lembaga itu mendirikan SMK Santa Maria, Rumah Retret Costantini, Gedung Sentra Belajar dan Gedung Aula Besar di Jalan KS Tubun serta Gedung PG-TKK-SD di Jalan Juanda.
Yayasan Pendidikan Kalimantan resmi berdiri pada tahun 1964.
Urutan peristiwa
7
Hingga saat ini, sekolah SMA Katolik Santu Petrus masih terus berjaya melahirkan lulusan-lulusan terbaik. Sekolah ini masih tergolong ke dalam sekolah Favorit yang memiliki akriditasi A. Banyak sekali prestasi yang diraih oleh siswa dan guru baik di tingkat nasional maupun di tingkat internasional.
komentar terhadap sekolah
Reorientasi

                Teks di atas menceritakan tentang sejarah SMA Katolik Santu Petrus. Pada awal cerita diperkenalkan SMA Katolik Santu Petrus sebagai persekolahan yang dinaungi oleh Yayasan Pendidikan Kalimantan dan disajikan letak bangunan yang berada di jalan Karel satsuit Tubun. Selanjutnya, dikisahkan tentang riwayat pembangunan SMA Katolik Santu Petrus dari awal hingga saat ini yang disampaikan secara kronologis. Pada bagian akhir cerita disajikan komentar dan penilaian terhadap SMA Katolik Santu Petrus.







Apakah benar teks tersebur tergolong ke dalam jenis teks cerita sejarah? Mari kita lakukan analisis terhadap teks ini!


Bumi Berguncang di Dataran Konflik
Gempa bumi berkekuatan 7,8 skala richter mengguncang kawasan barat Provinsi Baluchistan, Pakistan. Gempa ini terjadi pada 24 September 2013. Pusat gempa berada di kedalaman 23 kilometer, sekitar 233 kilometer tenggara Dalbandin, Baluchistan. Bencana menyebabkan sedikitnya 515 orang tewas, 765 orang terluka, dan lebih dari 100.000 orang terlantar, serta menghancurkan sejumlah fasilitas umum dan infrastruktur.
Gempa juga dirasakan masyarakat di Gwadar, Khuzdar, Chagai, Hyderabad, dan Karachi yang berada ratusan kilometer dari pusat gempa. Bahkan, guncangan terasa hingga New Delhi, India.
Beberapa jam setelah gempa, sebuah pulau baru muncul di kota pelabuhan Gwadar di pesisir Pakistan. Pulau itu diduga terbentuk dari lapisan tanah di kawah lumpur. Gundukan lumpur dan batu itu tingginya 18 meter dengan panjang 30 meter dan lebar 76 meter.
Lima hari setelah terjadi gempa pertama, Provinsi Baluchistan kembali diguncang gempa berkekuatan 6,8 skala richter, yaitu pada 28 September 2013. Pusat gempa berada di 96 kilometer timur laut Distrik Awaran, dengan kedalaman 14 kilometer. Sedikitnya 22 orang tewas dan hampir 15.000 rumah di Kota Nokjo, bagian barat Provinsi Baluchistan.
Evakuasi korban dan pendistribusian bantuan ke sejumlah daerah terdampak gempa terkendala kerusakan infrastruktur jalan dan lokasi yang berjauhan. Tim penyelamat juga harus berhadapan dengan serangan kelompok separatis Baluchistan. Lima orang tentara perbatasan yang mengawal konvoi bantuan tewas saat berhadapan dengan militan di Kota Panjgore, 800 km utara Quetta, (28/9/2013). Sebelumnya, helikopter tim pemantau dan penyelamat korban gempa juga diserang kelompok separatis.
Pemerintah Pakistan mencatat kelompok separatis Baluchistan tersebar di sejumlah distrik di Provinsi Baluchistan tersebut. Salah satu tempat persebaran kelompok itu berada di pedalaman Distrik Awaran yang dekat dengan pusat gempa dan tingkat kerusakan paling parah

(http://www.materikelas.com/teks-cerita-sejarah-pengertian-struktur-teks-kaidah-kebahasaan-dan-contoh-teks-cerita-sejarah/#)



Hasil analisis:
Teks di atas bukan tergolong ke dalam teks cerita sejarah karena tidak menyajikan peristiwa secara naratif. Selain itu, peristiwa yang paparkan tidak kronologis dan bukan menceritakan tentang asal muasal terjadinya sesuatu yang memiliki nilai sejarah. Dalam cerita sejarah, peristiwa harus dipaparkan dalam bentuk cerita (naratif). Selain itu,  harus berdasarkan urutan peristiwa (kronologi) dan mengulas tentang kejadian yang benar-benar terjadi pada masa lampau yang memiliki nilai sejarah. Teks di atas lebih bersifat laporan. Lebih tepatnya berupa teks berita karena unsur 5W+1 H lebih menonjol pada teks tersebut.



Contoh lain teks cerita sejarah

Sejarah Kota Pontianak

Kota Pontianak terletak pada Lintasan Garis Khatulistiwa dengan ketinggian berkisar antara 0,1 sampai 1,5 meter di atas permukaan laut. Kota dipisahkan oleh Sungai Kapuas Besar, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Landak. Dengan demikian Kota Pontianak terbagi atas tiga belahan. Nama Pontianak yang berasal dari bahasa Melayu yang beraini dipercaya ada kaitannya dengan kisah Syarif Abdurrahman yang sering diganggu oleh hantu Kuntilanak ketika dia menyusuri Sungai Kapuas.
Kota Pontianak didirikan oleh Syarif Abdurrahman Alkadrie pada hari Rabu, 23 Oktober 1771 (14 Rajab 1185 H) yang ditandai dengan membuka hutan di persimpangan Sungai Landak, Sungai Kapuas Kecil, dan Sungai Kapuas Besar untuk mendirikan balai dan rumah sebagai tempat tinggal. Pada tahun 1778 (1192 H), Syarif Abdurrahman dikukuhkan menjadi Sultan Pontianak. Letak pusat pemerintahan ditandai dengan berdirinya Masjid Jami' (kini bernama Masjid Sultan Syarif Abdurrahman) dan Istana Kadariah yang sekarang terletak di Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur.
Sejarah pendirian kota Pontianak yang dituliskan oleh seorang sejarawan Belanda, V.J. Verth dalam bukunya Borneos Wester Afdeling, yang isinya sedikit berbeda dari versi cerita yang beredar di kalangan masyarakat saat ini. Menurutnya, Belanda mulai masuk ke Pontianak tahun 1194 Hijriah (1773 Masehi) dari Batavia. Verth menulis bahwa Syarif Abdurrahman, putra ulama Syarif Hussein bin Ahmed Alqadrie (atau dalam versi lain disebut sebagai Al Habib Husin), meninggalkan Kerajaan Mempawah dan mulai merantau. Di wilayah Banjarmasin, ia menikah dengan adik sultan Banjar Sunan Nata Alam dan dilantik sebagai Pangeran. Ia berhasil dalam perniagaan dan mengumpulkan cukup modal untuk mempersenjatai kapal pencalang dan perahu lancangnya, kemudian ia mulai melakukan perlawanan terhadap penjajahan Belanda.
Dengan bantuan Sultan Pasir, Syarif Abdurrahman kemudian berhasil membajak kapal Belanda di dekat Bangka, juga kapal Inggris dan Perancis di Pelabuhan Pasir. Abdurrahman menjadi seorang kaya dan kemudian mencoba mendirikan pemukiman di sebuah pulau di Sungai Kapuas. Ia menemukan percabangan Sungai Landak dan kemudian mengembangkan daerah itu menjadi pusat perdagangan yang makmur. Wilayah inilah yang kini bernama Pontianak.
Pada tahun 1778, kolonialis Belanda dari Batavia memasuki Pontianak dengan dipimpin oleh Willem Ardinpola. Belanda saat itu menempati daerah di seberang istana kesultanan yang kini dikenal dengan daerah Tanah Seribu atau Verkendepaal.
Pada tanggal 5 Juli 1779, Belanda membuat perjanjian dengan Sultan mengenai penduduk Tanah Seribu agar dapat dijadikan daerah kegiatan bangsa Belanda yang kemudian menjadi kedudukan pemerintahan Resident het Hoofd Westeraffieling van Borneo (Kepala Daerah Keresidenan Borneo Barat) dan Asistent Resident het Hoofd der Affleeling van Pontianak (Asisten Residen Kepala Daerah Kabupaten Pontianak). Area ini selanjutnya menjadi Controleur het Hoofd Onderafdeeling van Pontianak atau Hoofd Plaatselijk Bestuur van Pontianak.     
Assistent Resident het Hoofd der Afdeeling van Pontianak (semacam Bupati Pontianak) mendirikan Plaatselijk Fonds. Badan ini mengelola eigendom atau kekayaan Pemerintah dan mengurus dana pajak. Plaatselijk Fonds kemudian berganti nama menjadi Shintjo pada masa kependudukan Jepang di Pontianak.
Berdasarkan besluit Pemerintah Kerajaan Pontianak tanggal 14 Agustus 1946 No. 24/1/1940 PK yang disahkan menetapkan status Pontianak sebagai stadsgemeente. R. Soepardan ditunjuk menjadi syahkota atau pemimpin kota saat itu. Jabatan Soepardan berakhir pada awal tahun 1948 dan kemudian digantikan oleh Ads. Hidayat. Kemudian, pusat PPD ini dipindahkan ke Pontianak yang awalnya berasal dari Sanggau pada 1 November 1945[5] dan menjadi suatu wadah kebangkitan Dayak pada 3 November 1945, sekitar 74 hari setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Pembentukan stadsgerneente bersifat sementara, maka Besluit Pemerintah Kerajaan Pontianak diubah dan digantikan dengan Undang-undang Pemerintah Kerajaan Pontianak tanggal 16 September 1949 No. 40/1949/KP. Dalam undang-undang ini disebut Peraturan Pemerintah Pontianak dan membentuk Pemerintah kota Pontianak, sedangkan perwakilan rakyat disebut Dewan Perwakilan Penduduk Kota Pontianak. Walikota pertama ditetapkan oleh Pemerintah Kerajaan Pontianak adalah Rohana Muthalib. Ia adalah seorang wanita pertama yang menjadi walikota Pontianak.
Sesuai dengan perkembangan tata pemerintahan, maka dengan Undang-undang Darurat Nomor 3 Tahun 1953, bentuk Pemerintahan Landschap Gemeente, ditingkatkan menjadi kota praja Pontianak. Pada masa ini urusan pemerintahan terdiri dari Urusan Pemerintahan Umum dan Urusan Pemerintahan Daerah.
Pemerintah Kota Praja Pontianak diubah dengan berdasarkan Undang-undang No. 1 Tahun 1957, Penetapan Presiden No.6 Tahun 1959 dan Penetapan Presiden No.5 Tahun 1960, Instruksi Menteri Dalam Negeri No.9 Tahun 1964 dan Undang-undang No. 18 Tahun 1965, maka berdasarkan Surat Keputusan DPRD-GR Kota Praja Pontianak No. 021/KPTS/DPRD-GR/65 tanggal 31 Desember 1965, nama Kota Praja Pontianak diganti menjadi Kotamadya Pontianak, kemudian dengan Undang-undang No.5 Tahun 1974, nama Kotamadya Pontianak berubah menjadi Kotamadya Daerah Tingkat II Pontianak.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang Pemerintah di Daerah mengubah sebutan untuk Pemerintah Tingkat II Pontianak menjadi sebutan Pemerintah Kota Pontianak, sebutan Kotamadya Potianak diubah kemudian menjadi Kota Pontianak.[4]
(https://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Pontianak#Sejarah_pendirian_menurut_V.J._Vert) 



Contoh teks cerita sejarah

Sejarah Perjalanan Hidup Para Pastor Congregatio Discipulorum Domini (CDD)
sebagai Pendiri SMA Katolik Santu Petrus

CDD adalah singkatan dari Congregatio Discipulorum Domini . Dalam bahasa inggris (Cong regation of the Lord) yang artinya Konggregasi murid-murid Tuhan. CDD berkarya di berbagai negara yaitu  di Cina, Taiwan, Malaysia, Indonesia, Singapore, dan Canada. Kongregasi murid-murid Tuhan ini didirikan oleh Celso Costantini. Beliau dikenal sebagai Bapak Pendiri CDD.  
Bapak Cardinal Costantini  dilahirkan di Udine, Italia pada tanggal 3 April 1876. Ia seorang Imam yang pernah menjadi pastor kapelan militer saat Perang Dunia I. Beliau juga pernah menjadi Uskup di Fiume, Keuskupan Italia. Selanjutnya, diangkat sebagai “Delegatus Apostolic” pertama untuk negeri China pada 9 Agt 1922.  Kemudian ia mendirikan seminari di China.
Bapak Celso Costantini menggagas berdirinya Universitas Katolik pertama (Fu Jen) di China. Beliau mendirikan seminari Cina dan kolese utk para imam China dan Afrika yang studi di Roma. Selain itu, beliau juga mendirikan Kongregasi Murid-murid Tuhan/ Congregatio Discipulorum Domini (CDD) di China. Beliau kemudian meninggal pada tanggal 17 Okt 1958 (Hari Khun Chung/ sekolah-sekolah asuhan Yayasan Pendidikan Kalimantan).
Pada tahun 1948 misi pewartaan berubah, semula hanya utk orang China yang ada di China, namun karena kondisi keamanan negara mempengaruhi CDD utk melakukan karya misi di luar China (China diaspora). Pada tahun 1948 biara induk “Emaus” dipindahkan ke Beijing. 1948 karya misi dimulai di Shanghai. Selanjutnya, pada tahun1948 mulai ke luar China: hingga ke Indonesia.
CDD memulai karyanya di Indonesia pada tahun 1949 dengan kedatangan Pater Josep Wang, CDD di kota Medan. Selanjutnya, pada tahun 1950, Pater Josep Wang membuka sekolah di Malang (Kosayu) atas permintaan Mgr. AEJ. Albert, O.Carm (Uskup Malang). Kemudian, pada tanggal 28 Maret 1949 enam orang Pastor CDD yaitu  P. Anthonio Chang, CDD., P. C. Dominicus Chu, P. Chow, CDD, P. Johanes Ma., CDD, P. Andrea Lie, CDD, dan P. Joanes  Tsou, tiba di Pontianak.
Karya para pastor CDD di Pontianak dimulai dengan membangun SMP yang dinamakan Pontianak Middle School (PMS)/ Khun Tong. Persekolahan Khun Tong ini merupakan cikal bakal sekolah-sekolah asuhan Yayasan Pendidikan Kalimantan pada tahun 1959. Selain itu, para pastor CDD juga membangun tempat pembinaan karakter dan iman di desa Korek, Sei Ambawang yang dinamakan Rumah Retret Costantini Ambawang (RRCA).



Tidak ada komentar:

Posting Komentar