Rabu, 15 Oktober 2014

Struktur Teks Deskripsi "Beringharjo, Pasar Tradisional Terlengkap di Yogyakarta" (Materi Bab II kls VII)


Bacalah teks deskripsi “Beringharjo, Pasar Tradisional Terlengkap di Yogyakarta” berikut ini dengan cermat dan teliti!

Beringharjo, Pasar Tradisional Terlengkap di Yogyakarta

Pasar Beringharjo merupakan pasar tradisional di Yogyakarta yang patut untuk dikunjungi. Pasar ini telah menjadi pusat kegiatan ekonomi selama ratusan tahun dan keberadaannya mempunyai makna filosofis. Pasar yang telah berkali- kali dipugar ini melambangkan satu tahapan kehidupan manusia yang masih berkutat dengan pemenuhan kebutuhan ekonominya. Selain itu, Beringharjo juga merupakan salah satu pilar 'Caturtunggal' (terdiri atas Kraton, Alun-Alun Utara, Kraton, dan Pasar Beringharjo) yang melambangkan fungsi ekonomi.

Wilayah Pasar Beringharjo mulanya merupakan hutan beringin. Tak lama setelah berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, tepatnya tahun 1758, wilayah pasar ini dijadikan tempat transaksi ekonomi oleh warga Yogyakarta dan sekitarnya. Ratusan tahun kemudian, pada tahun 1925, barulah tempat transaksi ekonomi ini memiliki sebuah bangunan permanen. Nama 'Beringharjo' sendiri diberikan oleh Hamengku Buwono IX, artinya wilayah yang semula pohon beringin (bering) diharapkan dapat memberikan kesejahteraan (harjo). Kini, para wisatawan memaknai pasar ini sebagai tempat belanja yang menyenangkan.

Bagian depan dan belakang bangunan pasar sebelah barat merupakan tempat yang tepat untuk memanjakan lidah dengan jajanan pasar. Di sebelah utara bagian depan, dapat dijumpai brem bulat dengan tekstur lebih lembut dari brem Madiun dan krasikan (semacam dodol dari tepung beras, gula jawa, dan hancuran wijen). Di sebelah selatan, dapat ditemui bakpia isi kacang hijau yang biasa dijual masih hangat dan kue basah seperti hung kwe dan nagasari. Bagian belakang umumnya menjual makanan yang tahan lama seperti ting-ting yang terbuat dari karamel yang dicampur kacang.

Bila hendak membeli batik, Beringharjo adalah tempat terbaik karena koleksi batiknya lengkap. Mulai batik kain atau sudah jadi pakaian, bahan katun hingga sutra, dan harga puluhan ribu sampai hampir sejuta tersedia di pasar ini. Koleksi batik kain dijumpai di los pasar bagian barat sebelah utara, sedangkan koleksi pakaian batik dijumpai hampir di seluruh pasar bagian barat. Selain pakaian batik, los pasar bagian barat juga menawarkan baju surjan, blangkon, dan sarung tenun atau batik. Sandal dan tas yang dijual dengan harga miring dapat dijumpai di sekitar eskalator pasar bagian barat.

Ketika berjalan ke lantai dua pasar bagian timur, jangan heran bila mencium aroma jejamuan. Tempat itu merupakan pusat penjualan bahan dasar jamu Jawa dan rempah-rempah. Bahan jamu yang dijual misalnya kunyit yang biasa dipakai untuk membuat kunyit asam dan temulawak yang dipakai untuk membuat jamu terkenal sangat pahit. Rempah-rempah yang ditawarkan adalah jahe (biasa diolah menjadi minuman ronde ataupun hanya dibakar, direbus dan dicampur gula batu) dan kayu (dipakai untuk memperkaya citarasa minuman seperti wedang jahe, kopi, teh dan kadang digunakan sebagai pengganti bubuk coklat pada cappucino).

Pasar ini juga tempat yang tepat untuk berburu barang antik. Sentra penjualan barang antik terdapat di lantai 3 pasar bagian timur. Di tempat itu, wisatawan bisa mendapati mesin ketik tua, helm buatan tahun 60-an yang bagian depannya memiliki mika sebatas hidung dan sebagainya. Di lantai itu pula, anda dapat memburu barang bekas berkualitas bila mau. Berbagai macam barang bekas impor seperti sepatu, tas, bahkan pakaian dijual dengan harga yang jauh lebih murah daripada harga aslinya dengan kualitas yang masih baik. Tentu butuh kejelian dalam memilih.

Meski pasar resmi tutup pukul 17.00 WIB, dinamika pedagang tidak berhenti pada jam itu. Bagian depan pasar masih menawarkan berbagai macam panganan khas. Martabak dengan berbagai isinya, terang bulan yang legit bercampur coklat dan kacang, serta klepon isi gula jawa yang lezat bisa dibeli setiap sorenya. Sekitar pukul 18.00 WIB hingga lewat tengah malam, biasanya terdapat penjual gudeg di depan pasar yang juga menawarkan kikil dan varian oseng-oseng. Sambil makan, wisatawan bisa mendengarkan musik tradisional Jawa yang diputar atau bercakap dengan penjual yang biasanya menyapa dengan akrab. Lengkap sudah.

Memahami Isi Teks Deskripsi
Setelah membaca teks tersebut dan untuk melatih pemahamanmu tentang teks, sekarang coba jawab pertanyaan berikut!
1.     Pasar “Beriharjo” terdapat di daerah mana?
2.    Apa makna kata “Beringharjo”?
3.    Siapa yang memberi nama “Beringharjo”? 
4.    Apa rempah-rempah yang ditawarkan di Pasar“Beringharjo”?
5.    Barang apa saja yang dijual di depan dan belakang bangunan pasar sebelah barat ?
6.    Barang antik apa saja yang dijual di pasar “Beringharjo”?
7.    Berbagai macam panganan khas apa saja yang dijual di Pasar “Beringharjo?”
8.    Apa khas tradisonal dari Yogyakarta yang banyak dijual di Pasar Beringharjo”?
9.    Di bagian mana kalau wisatawan ingin membeli aneka batik?
10.  Pukul berapa pasar “Beringharjo” tutup?

PEMBAHASAN:

  1. Pasar “Beriharjo” terdapat di daerah Jogjakarta
  2. Makna kata “Beringharjo” artinya artinya wilayah yang semula pohon beringin (bering) diharapkan dapat memberikan kesejahteraan (harjo).
  3. Nama “Beringharjo” diberikan oleh Hamengku Buwono IX.
  4. Rempah-rempah yang ditawarkan di Pasar“Beringharjo” adalah jahe dan kayu.
  5. Bagian depan dan belakang bangunan pasar sebelah barat merupakan tempat yang tepat untuk memanjakan lidah dengan jajanan pasar.
  6. Barang antik yang dijual di pasar “Beringharjo” diantaranya: mesin ketik tua, helm buatan tahun 60-an yang bagian depannya memiliki mika sebatas hidung dan sebagainya.
  7. Martabak dengan berbagai isinya, terang bulan yang legit bercampur coklat dan kacang, serta klepon isi gula jawa yang lezat bisa dibeli setiap sorenya.
  8. Masakan khas tradisonal dari Yogyakarta yang banyak dijual di Pasar Beringharjo adalah gudeg. Gudeg adalah masakan khas Yogyakarta dan Jawa Tengah yang terbuat dari nangka muda yang dimasak dengan santan dan biasanya diberi tambahan daging sapi.
  9. Koleksi batik kain dijumpai di los pasar bagian barat sebelah utara, sedangkan koleksi pakaian batik dijumpai hampir di seluruh pasar bagian barat. Selain pakaian batik, los pasar bagian barat juga menawarkan baju surjan, blangkon, dan sarung tenun atau batik
  10. Pasar “Beringharjo” tutup pada pukul 17.00 WIB.


Struktur Teks Deskripsi Pasar “Beringharjo”

Deskripsi Umum
Pasar Beringharjo merupakan pasar tradisional di Yogyakarta yang patut untuk dikunjungi. Pasar ini telah menjadi pusat kegiatan ekonomi selama ratusan tahun dan keberadaannya mempunyai makna filosofis. Pasar yang telah berkali-kali dipugar ini melambangkan satu tahapan kehidupan manusia yang masih berkutat dengan pemenuhan kebutuhan ekonominya. Selain itu, Beringharjo juga merupakan salah satu pilar ‘Caturtunggal’ (terdiri atas Kraton, Alun-Alun Utara, Kraton, dan Pasar Beringharjo) yang melambangkan fungsi ekonomi.
Wilayah Pasar Beringharjo mulanya merupakan hutan beringin. Tak lama setelah berdirinya Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat, tepatnya tahun 1758, wilayah pasar ini dijadikan tempat transaksi ekonomi oleh warga Yogyakarta dan sekitarnya. Ratusan tahun kemudian, pada tahun 1925, barulah tempat transaksi ekonomi ini memiliki sebuah bangunan permanen. Nama ‘Beringharjo’ sendiri diberikan oleh Hamengku Buwono IX, artinya wilayah yang semula pohon beringin (bering) diharapkan dapat memberikan kesejahteraan (harjo). Kini, para wisatawan memaknai pasar ini sebagai tempat belanja yang menyenangkan.
Deskripsi Bagian
Bagian depan dan belakang bangunan pasar sebelah barat merupakan tempat yang tepat untuk memanjakan lidah dengan jajanan pasar. Di sebelah utara bagian depan, dapat dijumpai brem bulat dengan tekstur lebih lembut dari brem Madiun dan krasikan (semacam dodol dari tepung beras, gula jawa, dan hancuran wijen). Di sebelah selatan, dapat ditemui bakpia isi kacang hijau yang biasa dijual masih hangat dan kue basah seperti hung kwe dan nagasari. Bagian belakang umumnya menjual makanan tyang tahan lama seperti ting- ting yang terbuat dari karamel yang dicampur kacang.
Deskripsi Bagian
Bila hendak membeli batik, Beringharjo adalah tempat terbaik karena koleksi batiknya lengkap. Mulai batik kain atau sudah jadi pakaian, bahan katun hingga sutra, dan harga puluhan ribu sampai hampir sejuta tersedia di pasar ini. Koleksi batik kain dijumpai di los pasar bagian barat sebelah utara, sedangkan koleksi pakaian batik dijumpai hampir di seluruh pasar bagian barat. Selain pakaian batik, los pasar bagian barat juga menawarkan baju surjan, blangkon, dan sarung tenun atau batik. Sandal dan tas yang dijual dengan harga miring dapat dijumpai di sekitar eskalator pasar bagian barat.
Ketika berjalan ke lantai dua pasar bagian timur, jangan heran bila mencium aroma jejamuan. Tempat itu merupakan pusat penjualan bahan dasar jamu Jawa dan rempah-rempah. Bahan jamu yang dijual misalnya kunyit yang biasa dipakai untuk membuat kunyit asam dan temulawak yang dipakai untuk membuat jamu terkenal sangat pahit. Rempah-rempah yang ditawarkan adalah jahe (biasa diolah menjadi minuman ronde ataupun hanya dibakar, direbus dan dicampur gula batu) dan kayu (dipakai untuk memperkaya citarasa minuman seperti wedang jahe, kopi, teh dan kadang digunakan sebagai pengganti bubuk coklat pada cappucino).
Pasar ini juga tempat yang tepat untuk berburu barang antik. Sentra penjualan barang antik terdapat di lantai 3 pasar bagian timur. Di tempat itu, wisatawan bisa mendapati mesin ketik tua, helm buatan tahun 60-an yang bagian depannya memiliki mika sebatas hidung dan sebagainya. Di lantai itu pula, anda dapat memburu barang bekas berkualitas bila mau. Berbagai macam barang bekas impor seperti sepatu, tas, bahkan pakaian dijual dengan harga yang jauh lebih murah daripada harga aslinya dengan kualitas yang masih baik. Tentu butuh kejelian dalam memilih. 7 Meski pasar resmi tutup pukul 17.00 WIB, dinamika pedagang tidak berhenti pada jam itu. Bagian depan pasar masih menawarkan berbagai macam panganan khas. Martabak dengan berbagai isinya, terang bulan yang legit bercampur coklat dan kacang, serta klepon isi gula jawa yang lezat bisa dibeli setiap sorenya. Sekitar pukul 18.00 WIB hingga lewat tengah malam, biasanya terdapat penjual gudeg di depan pasar yang juga menawarkan kikil dan varian oseng-oseng. Sambil makan, wisatawan bisa mendengarkan musik tradisional Jawa yang diputar atau bercakap dengan penjual yang biasanya menyapa dengan akrab. Lengkap sudah.





Selasa, 14 Oktober 2014

Bentuk Karya Sastra



Sastra terdiri dari tiga bentuk:
1)    Bentuk puisi (berbentuk larik-larik yang membentuk bait)
2)   Bentuk prosa (berbentuk narasi atau cerita) 
3)  Bentuk Drama (berbentuk teks percakapan /dialog (naskah)

 Ketiga bentuk karya sastra ini dibangun dengan 2 unsur yaitu unsur intrinsik dan unsur ektrinsik



                                                              
1.Bentuk Puisi
Contoh bentuk puisi:


Mutiara Alam Negeriku


Kubuka jendela kamarku
Derai angin menerpa wajah
Diiringi nyanyian burung kecil
Awan putih menggulung di langit biru
Bagai permadani tempat para malaikat
Ku mendongak ke langit atas
Menyerukan kata dengan suara lantang
Agar Sang Agung mendengar
Teriakanku “Tuhan…indahnya alammu!”
Jangan biarkan kilaunya meredup
Lenyap karna ulah mereka yang liar
Yang tak bias mendengar rintihan alamku
Alamku bisu tak dapat membela diri
Aku yang akan menjagamu dari mereka
Jangan menangis…
Jangan merintih
Teruslah berkilauan
Karna kau mutiara alam negeriku
  

Karya: Inda Junia
(Siswi kelas VIID SMP KATOLIK SANTU PETRUS)
2. Bentuk Prosa
Prosa adalah bentuk karya sastra yang menggunakan bahasa yang panjang, bebas, rinci dalam teknik pengungkapannya.
Berikut ini saya sajikan penggalan fabel berjudul "Oni Si Rakus". Fabel yang dilahirkan dari imajinasi saya. Fabel merupakan salah satu karya sastra berbentuk prosa.

Oni Si Rakus
Oleh: Agustin Flaviyana, S.Pd.
Matahari mulai terbit, burung-burung berkicau, semua satwa penghuni hutan mulai beraktivitas. Kabut pagi juga mulai lenyap dimakan mentari.
Di hutan itu terdapat kampung Kancil. Mereka hidup sangat Rukun dan hidup saling menolong. Ketika matahari terbit, mereka segera keluar dari lubang sarang di dalam tanah dan bersama-sama bergegas ke kebun masing-masing untuk bekerja.
Saat ini masih musim panas.. Waktu yang tepat bagi kawanan kancil untuk berkebun mananam wortel. Hingga musim penghujan tiba mereka tak perlu lagi keluar rumah untuk bekerja dan mencari makan karena mereka memiliki persediaan makanan yang cukup selama musim hujan.
Oci, kancil dan teman-temannya sangat rajin mencari makan dan bekerja di kebun. Pagi-pagi meraka segera mandi dan berangkat bekerja.
Lain halnya dengan Oni kancil, biarpun teman-temannya sudah pergi bekerja di kebun, dia tetap saja mendengkur.
“Oni, ayo bangun, teman-teman sudah bekerja..” ajak Oci Kancil sambil menarik selimut Oni.
“Malas ah...dingin-dingin begini enaknya bergulung dalam selimut…” Sahut Oni sambil menaikkan selimutnya.
...
3.Bentuk Drama

Drama adalah karya yang ditulis dalam bentuk percakapan (dialog) yang dipertunjukkan oleh tokoh-tokoh di atas pentas. Drama digolongkan ke dalam beberapa bagian, yaitu drama dalam bentuk tertulis dan drama yang dipentaskan. Naskah drama biasanya mempergunakan kalimat-kalimat langsung yang lengkap dengan penjelasan tentang sikap, gerakan, latar, dan cara pengungkapan kalimat yang harus dilakukan para pelakunya.
Contoh naskah Drama:
Di sebuah gubuk tua tinggallah seorang nenek bersama dengan Cucunya yang bernama Ruai. Ruai Gadis yang sangat cantik jelita, tetapi ia memiliki sifat yang malas, angkuh, dan sombong. Ia tak mau membantu neneknya mencari kayu bakar di hutan.
Pada suatu hari, neneknya pamit kepada Ruai untuk pergi mencari kayu bakar di hutan. Ketika itu Ruai msih tengah asik tidur.
Nenek    : Ruai.... Ruai.... Bangun, Cu. Hari sudah siang. nenek mau pergi ke hutan.
Ruai       : (Menggeliatkan tubuhnya  sambil menguap) Ah, nenek mengganggu tiduku!
Nenek    : Kau baik-baiklah di rumah. Nenek berangkat dulu.
Ruai        : (Tidak menghiraukan nenek. Menarik kembali selimutnya)
...... 




Rabu, 08 Oktober 2014

Cerpen "Penyesalan 27 Juli" Karya Agustin Flaviyana, S.Pd.



Penyesalan 27 Juli

Luka yang paling dalam adalah ketika kita mengalami ‘kehilangan’.
Kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidup. Kehilangan kasih, canda tawa, senda gurau. Yang paling menyakitkan ketika kata ‘maaf’ belum tersampaikan.
Menangislah, jika aku harus menangis.

27 Juli 2009
            Kutatap layang-layang kesayanganku. Layang-layang pemberian Kak Adit. Namaku Caroline, panggilan Carol. Aku suka bermain layang-layang walaupun aku bukan laki-laki. Setelah lelah bergumul dengan alam pikirku, aku kembali memajangnya di dinding kamar sederetan dengan koleksi layang-layangku yang lain. Ini layang-layang ke-7 dan terakhir setelah peristiwa buruk itu. Yang terakhir ini paling berharga dan bersejarah.
            Happy birthday, Kak Adit. Smoga kau tenang di sana di nirwana yang indah.”
            Sebenarnya aku benci hari ini. Kurebahkan tubuhku di tempat tidur. Alam pikirku kembali ke masa tiga tahun yang lalu.

Tiga tahun yan lalu…
20 Juli 2006
“Trimakasih, Kak Adit! Layang-layangnya bagus banget. Waaaah…ada ukiran namaku dan lukisan wajahku.” Aku berteriak girang. Kulabuhkan sebuah pelukan hangat ke tubuh Kak Adit yang tinggi.
            Layang-layang ini sengaja kakak buat sendiri sebagai hadiah ulang tahun adikku  yang manis ini.” kata Kak Adit. Ia mencium keningku. Sumpah..! Aku seneng banget.
            “Layang-layangnya dirawat dan dijaga, yah! Janji?!”
            “Janji kak!”

27 Juli 2006
            “Kak Adit pasti suka dengan hadiah yang kuberikan ini. Kak Adit kan suka melukis. Waaah, nggak kebayang wajah senangnya ketika membuka kado ini.” Aku senyum-senyum sendiri di kamarku setelah menyelesaikan bingkisan kado buat Kak Adit.
Hari ini Kak Adit berulang tahun yang ke-17, Sweet seventy. Hari ulang tahunku dan Kak Adik berjarak hanya 7 hari.
Sudah pukul 3 sore. Aku sudah tak sabar  menunggu Kak Adit pulang sekolah. Sekarang mungkin Kak Adit sedang dalam perjalanan pulang. Ia pulang sendiri menggunakan sepeda motor.
            Kulirik jam dinding yang ada di ruang keluarga. Pukul18.35. Saat ini Papa, Mama, dan aku (O ya, masih ada Bi Ratih, wanita separuh baya yang bekerja di rumahku selama 30 tahun) menunggu kedatangan Kak Adit. Kami sudah menyiapkan kejutan untuknya. Mama dari pagi menyiapkan semuanya dibantu oleh Bi Ratih. Masakan yang lezat dan kue-kue sudah terhidang di atas meja makan.
Pukul 19.22. Kak Adit belum juga pulang. Aku masih memeluk kado yang kupersiapkan sejak semalam. Papa sibuk menelpon HP Kak Adit yang sejak tadi mailbox. Kulihat Mama mondar-mandir tak tenang menunggu sosok Kak Adit. Raut khawatit menyelimuti parasnya. Seharusnya, hari ini kakak pulang jam 3 sore.
            Kring….kring….kring….. Tiba-tiba telepon rumah berdering.
            Mama segera berlari mengangkat telepon. Kulihat wajahnya begitu gusar.
            “Halo, selamat malam.” Sapa mama.
            “Ya benar. Ada apa ya? Ini siapa?” raut panik berlipat-lipat di kening mama.
            “Apa…?? Tidak mungkin, Pak…!” mama berteriak. Kami semua terhentak kaget mendengar teriakan mama. Aku, papa, bibi segera menghampiri mama.
“Di mana kejadiannya, Pak? Bagaimana keadaan a..a..anak saya?” mama menangis tersedu. Aku ikut menangis. Aku tau hal buruk menimpa Kak adit. Oh, tidak. Aku tak yakin.
“Baik, pak. Kami segera ke sana……iya…..trima kasih….malam..” mama terpaku. Ia tak mampu lagi berkata.
Aku begitu hancur ketika mama mengatakan Kak Adit kecelakaan. Ia di tabrak truck yang bermuatan kayu. Ternyata sopir truck itu dalam keadaan tertidur, ia tak melihat motor Kak Adit yang berhenti di lampu merah. Menurut cerita, bukan hanya Kak Adit yang menjadi korban. Banyak sekali, diantaranya juga ada Kak Gerald. Teman akrab Kak Adit sejak TK. Sampai sekarang mereka sekelas.
Kami semua berkumpul di depan ruang ICU menunggu informasi dari dokter mengenai keadaan Kak Adit. Kabar yang kami dengar terakhir, Kak Adit mengalami pendarahan di otak akibat benturan kuat di aspal jalan. Kulihat Kak Gerald bersama orang tuanya. Ternyata ia baik-baik saja hanya mengalami luka ringan dan benturan ringan di kepala. Syukurlah. Tapi, aku masih menangis. Rasanya aku ingin berteriak pada Tuhan untuk tidak mengambil nyawa Kakakku.
Aku berlari keluar dari ruangan menuju toilet.
“Tuhan, Carol mohon jangan ambil nyawa Kak Adit. Carol belum siap, Tuhan. Carol belum sempat kasi kado ini ke Kak Adit. Beri kak Adit kesempatan hidup, ya. Amin.” Aku meneteskan air mata.
Aku kembali ke ruang ICU. Rasanya kakiku berat melangkah ketika melihat mama menangis di pelukan papa. Semua menangis… Kak Gerald juga. Apa yang terjadi?
“Mama…” aku menghampiri mama. Mama berlari ke arahku dan merangkul aku. Ia terus menangis.
“Carol… Kak Adit sudah pergi. Pergi untuk selama-lamanya.” Bisik mama.
Aku rapuh. Kelu tak mampu lagi berkata. Menangis pun tidak. Semua tiba-tiba menjadi gelap dan sunyi.
***


27 Juli 2009
          “Carol Kak Gerald datang.” seru mama. Suara mama membuat aku terjaga dari lamunanku ke masa tiga tahun yang lalu. Aku segera bangkit keluar menuju beranda rumah. Kulihat Kak Gerald duduk sambil membaca komik terbarunya yang dibeli kemarin.
            Kami berbincang-bincang di beranda rumah. Tawa mewarnai perckapn kami. Kak Gerald sangat pandai membuatku tertawa. Ia terus mengerak-gerakkan tangannya.
            “Trima kasih Kak Gerald. Kakak bersedia menemani Carol semenjak kepergian Kak Adit. Kakak pengganti Kak Adit sebagai penjagaku.” kataku agak sedikit parau. Kak Gerald seolah-olah memeluk Kak Adit. Aku mengerti perasaan Kak Gerald saat itu.ia juga sangat terluka kehilangan sahabat baiknya. Oleh karena itu, aku tau dengan cara melindungiku ia merasa telah menjalankan amanat Kak Adit yang tak sempat tersampaikan. Ini tahun ketiga sejak kepergian Kak Adit. Sebenarnya aku benci hari ini.
            Kak Gerald menggerak-gerakan tangannya (bahasa isyarat). Aku belum menceritakan bahwa Kak Gerald sekarang bisu. Akibat kecelakaan itu, ia tak lagi dapat bicara. Pita suaranya rusak akibat luka di leher.
            “Iya, Kak. Aku janji nggak akan sedih lagi.” sahutku. Aku mengerti maksud bahasa isyarat kak Gerald. Ia memintaku untuk tidak bersedih lagi. Katanya ia akan slalu menjagaku. Kak Gerald pamit pulang padaku. Rumahnya tak jauh dari rumahku. Rumah kelima jika dihitung dari rumahku.
            “Hati-hati di jalan, Kak! Jangan lupa besok hari Minggu temani Carol main layang-layang, ya.”
            Kak Gerald mengacungkan jempolnya.
            Hari Minggu tiba. Aku dan Kak Gerald bermain-main layang-layang di taman bermain kompleks perumahan kami. Hari ini aku membawa layang-layang pemberian Kak Adit. Kami asyik bermain layang-layang. Aku mengajak Kak Gerald bertukar layang-layang. Aku memainkan layang-layangnya, sedangkan Kak Gerald memainkan layang-layangku.
            “Kak, Carol pamit cuci tangan di sungai itu, ya.” Aku menurunkan layang-layang Kak Gerald, sedangkan kak Gerald masih memainkan layang-layangku.
            Kak Gerald mengangguk. Ia menggerak-gerakkan tangannya.
            “Iya, Kak… Carolakan berhati-hati dan nggak berlama-lama, kok.” sahutku sambil berlalu menuju sungai.
            Setelah mencuci tanganku, aku kembali ke taman bermain. Alam berubah menjadi gerimis. Dikejauhan kulihat Kak Gerald sedang berusaha menarik-narik layang-layangku. Ia terlihat panic. Angin terlalu kuat. Hingga akhirnya…… oh, tidak… layang-layang pemberian Kak Adit putus dan terbang entah kemana jatuhnya. Aku berlari sekuat tenaga mengikuti layang-layangku. Kuliahat Kak Gerald berlari menyusul. Ternyata tersangkut di pohon yang sangat tinggi. Hujan masih gerimis, walau agak sedikit reda. Kak Gerald berhenti di sampingku. Aku menatap tajam ke arahnya.
            “Kak Gerald jahat. Kakak membuat aku kehilangan kembali Kak Aditku. Kakak membuat aku gagal memenuhi janjiku kepada Kak Adit. Aku menyesal pernah mengenal Kakak.” Aku berlalu pergi. Kak Gerald mengejarku. Ia menggerak-gerakkan tangannya. Ia berusaha mencegahku pulang sendiri. Aku tak mau tau lagi.
            “Jangan pernah muncul di kehidupanku lagi. SELAMANYA!!” KAK Gerald terpaku. Ia tertunduk sedih dan tak lagi berusaha mengejarku.
***



            Alarmku berbunyi. Aku segara mandi dan mengenakan seragamku. Rasanya kepalaku pusing dan aku masih ngantuk berat. Semalaman aku tak bisa tidur memikirkan layang-layang Kak Adit. Rasanya ingin berteriak. Rasa benciku kepada Kak Gerald semakin kuat. Aku tak mau bertemu dengannya lagi. Aku ingin ia pergi dari kehidupanku selamanya.
            Setelah semua beres, aku turun ke ruang makan untuk sarapan. Mama telah menyiapkan sarapan untuk aku dan papa. Mama dan papa saling melirik, seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan padaku, tetapi tertahan. Dan sepertinya mereka berdua berselisih untuk menyampaikannya, dan keduanya tampak sama-sama tak berani menyampaikan. Aku pura-pura tak peduli.
            “Carol, ini ada layang-layang Kak Adit.” kata mama menyerahkan layang-layang kesayanganku yang agak sedikit luntur.
            “Kok, bisa ya, ma? Padahal kemarin nyangkut di pohon. Pohonnya tinggi banget sampai menjulur ke tiang listrik. Siapa yang memberikannya, ma?”
            “Mama Gerald, ia juga menitipkan surat ini padamu.”
            “Oke. Trims, Ma. Aku tau pasti Kak Gerald yang memanjat pohon itu. Aku mau minta maaf sama Kak Gerald karna udah marain dia kemarin.” Aku tersenyum, kemudian segera berlari.
            “Pa, tunggu bentar, ya. Mau ketemu Kak Gerald dulu mau minta maaf dan ngucapin trims sama dia. Sebantar ya, ma.” Buru-buru aku pergi sampai tak menghiraukan mama yang berlari mencegahku.
            Akhirnya, sampai di rumah Kak Geral. Aku melihat di rumahnya sangat ramai.
“Kenapa semua berseragam hitam? Seperti sedang berkabung. Oh…tidak, jangan-jangan mama Kak Gerald meninggal. Tapi, kan kata mama tadi dia ada datang ke rumuh kasi surat dan layang-layang itu.” Aku masih bergelut dengan alam pikirku yang belum terjawab. Aku segera berlari masuk ke rumah itu. Dan mendekati kerumunan yang sedang duduk mengitari jenazah. Ntah jenazah siapa.
“Oh…tidah. Itu kan Kak Gerald.” Aku menangis hancur. Semua mata tertuju padaku. Papa Kak Gerald mendekatiku.
“Apa yang terjadi, om?”
“Kak Gerald tersetrum listrik ketika memanjat pohon di taman kompleks kita.”
Aku terkaku. Sepi. Semua menjadi begitu gelap.
***

            Aku membuka mataku walau masih agak sedikit berat. Kumemandang ke seliling ruangan. Aku sudah berada di kamarku. Aku kembali mengingat kejadian sebelum aku pingsan tadi. Kata papa Kak Gerald, Kak Gerald tersetrum ketika hendak turun karena pohon itu terkena aliran listrik. Ia sempat dibawa ke rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri. Ia sempat melewati masa kritis. Ia menulis surat utukku. Setelah menulis surat, ia menghembuskan napasnya yang terakhir. Air mataku tak terbendung.
            Aku meraba-raba saku seragamku. (aku tak jadi ke sekolah. Aku yakin orang tuaku sudah mengabari pihak sekolah) mencari sesuatu. Yah..surat dari Kak Gerald yang ditulis di rumah sakit sebelum dia menghembuskan napas terakhir.

Untuk adikku, Caroline
Carol, maafkan kakak. Kakak tak sengaja merusak layang-layangmu.
Ketika kamu meninggalkan kakak, kakak sangat khawatir karena kamu belum juga datang. Kakak khawatir hal buruk terjadi padamu di sungai karena kamu tak bisa berenang.
Seandainya kakak bisa berteriak kakak akan memanggilmu. Konsentrasi kakak tertuju padamu sehingga tak menyadari layang-layang itu sudah tersangkut di ranting-ranting pohon.
Maafkan kakak karena telah membuat kamu terluka. Kakak telah gagal membuatmu bahagia.

            “Kak Gerald……………!” aku berteriak sekuat tenaga.
“Maafkan Carol, Kak. Sekarang Carol sendiri. Siapa yang akan menemani Carol lagi?” Aku menutup mataku, terluka. Sangat dalam. Aku benar-benar benci hari ini.
            ***