Rabu, 08 Oktober 2014

Cerpen "Penyesalan 27 Juli" Karya Agustin Flaviyana, S.Pd.



Penyesalan 27 Juli

Luka yang paling dalam adalah ketika kita mengalami ‘kehilangan’.
Kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidup. Kehilangan kasih, canda tawa, senda gurau. Yang paling menyakitkan ketika kata ‘maaf’ belum tersampaikan.
Menangislah, jika aku harus menangis.

27 Juli 2009
            Kutatap layang-layang kesayanganku. Layang-layang pemberian Kak Adit. Namaku Caroline, panggilan Carol. Aku suka bermain layang-layang walaupun aku bukan laki-laki. Setelah lelah bergumul dengan alam pikirku, aku kembali memajangnya di dinding kamar sederetan dengan koleksi layang-layangku yang lain. Ini layang-layang ke-7 dan terakhir setelah peristiwa buruk itu. Yang terakhir ini paling berharga dan bersejarah.
            Happy birthday, Kak Adit. Smoga kau tenang di sana di nirwana yang indah.”
            Sebenarnya aku benci hari ini. Kurebahkan tubuhku di tempat tidur. Alam pikirku kembali ke masa tiga tahun yang lalu.

Tiga tahun yan lalu…
20 Juli 2006
“Trimakasih, Kak Adit! Layang-layangnya bagus banget. Waaaah…ada ukiran namaku dan lukisan wajahku.” Aku berteriak girang. Kulabuhkan sebuah pelukan hangat ke tubuh Kak Adit yang tinggi.
            Layang-layang ini sengaja kakak buat sendiri sebagai hadiah ulang tahun adikku  yang manis ini.” kata Kak Adit. Ia mencium keningku. Sumpah..! Aku seneng banget.
            “Layang-layangnya dirawat dan dijaga, yah! Janji?!”
            “Janji kak!”

27 Juli 2006
            “Kak Adit pasti suka dengan hadiah yang kuberikan ini. Kak Adit kan suka melukis. Waaah, nggak kebayang wajah senangnya ketika membuka kado ini.” Aku senyum-senyum sendiri di kamarku setelah menyelesaikan bingkisan kado buat Kak Adit.
Hari ini Kak Adit berulang tahun yang ke-17, Sweet seventy. Hari ulang tahunku dan Kak Adik berjarak hanya 7 hari.
Sudah pukul 3 sore. Aku sudah tak sabar  menunggu Kak Adit pulang sekolah. Sekarang mungkin Kak Adit sedang dalam perjalanan pulang. Ia pulang sendiri menggunakan sepeda motor.
            Kulirik jam dinding yang ada di ruang keluarga. Pukul18.35. Saat ini Papa, Mama, dan aku (O ya, masih ada Bi Ratih, wanita separuh baya yang bekerja di rumahku selama 30 tahun) menunggu kedatangan Kak Adit. Kami sudah menyiapkan kejutan untuknya. Mama dari pagi menyiapkan semuanya dibantu oleh Bi Ratih. Masakan yang lezat dan kue-kue sudah terhidang di atas meja makan.
Pukul 19.22. Kak Adit belum juga pulang. Aku masih memeluk kado yang kupersiapkan sejak semalam. Papa sibuk menelpon HP Kak Adit yang sejak tadi mailbox. Kulihat Mama mondar-mandir tak tenang menunggu sosok Kak Adit. Raut khawatit menyelimuti parasnya. Seharusnya, hari ini kakak pulang jam 3 sore.
            Kring….kring….kring….. Tiba-tiba telepon rumah berdering.
            Mama segera berlari mengangkat telepon. Kulihat wajahnya begitu gusar.
            “Halo, selamat malam.” Sapa mama.
            “Ya benar. Ada apa ya? Ini siapa?” raut panik berlipat-lipat di kening mama.
            “Apa…?? Tidak mungkin, Pak…!” mama berteriak. Kami semua terhentak kaget mendengar teriakan mama. Aku, papa, bibi segera menghampiri mama.
“Di mana kejadiannya, Pak? Bagaimana keadaan a..a..anak saya?” mama menangis tersedu. Aku ikut menangis. Aku tau hal buruk menimpa Kak adit. Oh, tidak. Aku tak yakin.
“Baik, pak. Kami segera ke sana……iya…..trima kasih….malam..” mama terpaku. Ia tak mampu lagi berkata.
Aku begitu hancur ketika mama mengatakan Kak Adit kecelakaan. Ia di tabrak truck yang bermuatan kayu. Ternyata sopir truck itu dalam keadaan tertidur, ia tak melihat motor Kak Adit yang berhenti di lampu merah. Menurut cerita, bukan hanya Kak Adit yang menjadi korban. Banyak sekali, diantaranya juga ada Kak Gerald. Teman akrab Kak Adit sejak TK. Sampai sekarang mereka sekelas.
Kami semua berkumpul di depan ruang ICU menunggu informasi dari dokter mengenai keadaan Kak Adit. Kabar yang kami dengar terakhir, Kak Adit mengalami pendarahan di otak akibat benturan kuat di aspal jalan. Kulihat Kak Gerald bersama orang tuanya. Ternyata ia baik-baik saja hanya mengalami luka ringan dan benturan ringan di kepala. Syukurlah. Tapi, aku masih menangis. Rasanya aku ingin berteriak pada Tuhan untuk tidak mengambil nyawa Kakakku.
Aku berlari keluar dari ruangan menuju toilet.
“Tuhan, Carol mohon jangan ambil nyawa Kak Adit. Carol belum siap, Tuhan. Carol belum sempat kasi kado ini ke Kak Adit. Beri kak Adit kesempatan hidup, ya. Amin.” Aku meneteskan air mata.
Aku kembali ke ruang ICU. Rasanya kakiku berat melangkah ketika melihat mama menangis di pelukan papa. Semua menangis… Kak Gerald juga. Apa yang terjadi?
“Mama…” aku menghampiri mama. Mama berlari ke arahku dan merangkul aku. Ia terus menangis.
“Carol… Kak Adit sudah pergi. Pergi untuk selama-lamanya.” Bisik mama.
Aku rapuh. Kelu tak mampu lagi berkata. Menangis pun tidak. Semua tiba-tiba menjadi gelap dan sunyi.
***


27 Juli 2009
          “Carol Kak Gerald datang.” seru mama. Suara mama membuat aku terjaga dari lamunanku ke masa tiga tahun yang lalu. Aku segera bangkit keluar menuju beranda rumah. Kulihat Kak Gerald duduk sambil membaca komik terbarunya yang dibeli kemarin.
            Kami berbincang-bincang di beranda rumah. Tawa mewarnai perckapn kami. Kak Gerald sangat pandai membuatku tertawa. Ia terus mengerak-gerakkan tangannya.
            “Trima kasih Kak Gerald. Kakak bersedia menemani Carol semenjak kepergian Kak Adit. Kakak pengganti Kak Adit sebagai penjagaku.” kataku agak sedikit parau. Kak Gerald seolah-olah memeluk Kak Adit. Aku mengerti perasaan Kak Gerald saat itu.ia juga sangat terluka kehilangan sahabat baiknya. Oleh karena itu, aku tau dengan cara melindungiku ia merasa telah menjalankan amanat Kak Adit yang tak sempat tersampaikan. Ini tahun ketiga sejak kepergian Kak Adit. Sebenarnya aku benci hari ini.
            Kak Gerald menggerak-gerakan tangannya (bahasa isyarat). Aku belum menceritakan bahwa Kak Gerald sekarang bisu. Akibat kecelakaan itu, ia tak lagi dapat bicara. Pita suaranya rusak akibat luka di leher.
            “Iya, Kak. Aku janji nggak akan sedih lagi.” sahutku. Aku mengerti maksud bahasa isyarat kak Gerald. Ia memintaku untuk tidak bersedih lagi. Katanya ia akan slalu menjagaku. Kak Gerald pamit pulang padaku. Rumahnya tak jauh dari rumahku. Rumah kelima jika dihitung dari rumahku.
            “Hati-hati di jalan, Kak! Jangan lupa besok hari Minggu temani Carol main layang-layang, ya.”
            Kak Gerald mengacungkan jempolnya.
            Hari Minggu tiba. Aku dan Kak Gerald bermain-main layang-layang di taman bermain kompleks perumahan kami. Hari ini aku membawa layang-layang pemberian Kak Adit. Kami asyik bermain layang-layang. Aku mengajak Kak Gerald bertukar layang-layang. Aku memainkan layang-layangnya, sedangkan Kak Gerald memainkan layang-layangku.
            “Kak, Carol pamit cuci tangan di sungai itu, ya.” Aku menurunkan layang-layang Kak Gerald, sedangkan kak Gerald masih memainkan layang-layangku.
            Kak Gerald mengangguk. Ia menggerak-gerakkan tangannya.
            “Iya, Kak… Carolakan berhati-hati dan nggak berlama-lama, kok.” sahutku sambil berlalu menuju sungai.
            Setelah mencuci tanganku, aku kembali ke taman bermain. Alam berubah menjadi gerimis. Dikejauhan kulihat Kak Gerald sedang berusaha menarik-narik layang-layangku. Ia terlihat panic. Angin terlalu kuat. Hingga akhirnya…… oh, tidak… layang-layang pemberian Kak Adit putus dan terbang entah kemana jatuhnya. Aku berlari sekuat tenaga mengikuti layang-layangku. Kuliahat Kak Gerald berlari menyusul. Ternyata tersangkut di pohon yang sangat tinggi. Hujan masih gerimis, walau agak sedikit reda. Kak Gerald berhenti di sampingku. Aku menatap tajam ke arahnya.
            “Kak Gerald jahat. Kakak membuat aku kehilangan kembali Kak Aditku. Kakak membuat aku gagal memenuhi janjiku kepada Kak Adit. Aku menyesal pernah mengenal Kakak.” Aku berlalu pergi. Kak Gerald mengejarku. Ia menggerak-gerakkan tangannya. Ia berusaha mencegahku pulang sendiri. Aku tak mau tau lagi.
            “Jangan pernah muncul di kehidupanku lagi. SELAMANYA!!” KAK Gerald terpaku. Ia tertunduk sedih dan tak lagi berusaha mengejarku.
***



            Alarmku berbunyi. Aku segara mandi dan mengenakan seragamku. Rasanya kepalaku pusing dan aku masih ngantuk berat. Semalaman aku tak bisa tidur memikirkan layang-layang Kak Adit. Rasanya ingin berteriak. Rasa benciku kepada Kak Gerald semakin kuat. Aku tak mau bertemu dengannya lagi. Aku ingin ia pergi dari kehidupanku selamanya.
            Setelah semua beres, aku turun ke ruang makan untuk sarapan. Mama telah menyiapkan sarapan untuk aku dan papa. Mama dan papa saling melirik, seperti ada sesuatu yang ingin disampaikan padaku, tetapi tertahan. Dan sepertinya mereka berdua berselisih untuk menyampaikannya, dan keduanya tampak sama-sama tak berani menyampaikan. Aku pura-pura tak peduli.
            “Carol, ini ada layang-layang Kak Adit.” kata mama menyerahkan layang-layang kesayanganku yang agak sedikit luntur.
            “Kok, bisa ya, ma? Padahal kemarin nyangkut di pohon. Pohonnya tinggi banget sampai menjulur ke tiang listrik. Siapa yang memberikannya, ma?”
            “Mama Gerald, ia juga menitipkan surat ini padamu.”
            “Oke. Trims, Ma. Aku tau pasti Kak Gerald yang memanjat pohon itu. Aku mau minta maaf sama Kak Gerald karna udah marain dia kemarin.” Aku tersenyum, kemudian segera berlari.
            “Pa, tunggu bentar, ya. Mau ketemu Kak Gerald dulu mau minta maaf dan ngucapin trims sama dia. Sebantar ya, ma.” Buru-buru aku pergi sampai tak menghiraukan mama yang berlari mencegahku.
            Akhirnya, sampai di rumah Kak Geral. Aku melihat di rumahnya sangat ramai.
“Kenapa semua berseragam hitam? Seperti sedang berkabung. Oh…tidak, jangan-jangan mama Kak Gerald meninggal. Tapi, kan kata mama tadi dia ada datang ke rumuh kasi surat dan layang-layang itu.” Aku masih bergelut dengan alam pikirku yang belum terjawab. Aku segera berlari masuk ke rumah itu. Dan mendekati kerumunan yang sedang duduk mengitari jenazah. Ntah jenazah siapa.
“Oh…tidah. Itu kan Kak Gerald.” Aku menangis hancur. Semua mata tertuju padaku. Papa Kak Gerald mendekatiku.
“Apa yang terjadi, om?”
“Kak Gerald tersetrum listrik ketika memanjat pohon di taman kompleks kita.”
Aku terkaku. Sepi. Semua menjadi begitu gelap.
***

            Aku membuka mataku walau masih agak sedikit berat. Kumemandang ke seliling ruangan. Aku sudah berada di kamarku. Aku kembali mengingat kejadian sebelum aku pingsan tadi. Kata papa Kak Gerald, Kak Gerald tersetrum ketika hendak turun karena pohon itu terkena aliran listrik. Ia sempat dibawa ke rumah sakit dalam keadaan tak sadarkan diri. Ia sempat melewati masa kritis. Ia menulis surat utukku. Setelah menulis surat, ia menghembuskan napasnya yang terakhir. Air mataku tak terbendung.
            Aku meraba-raba saku seragamku. (aku tak jadi ke sekolah. Aku yakin orang tuaku sudah mengabari pihak sekolah) mencari sesuatu. Yah..surat dari Kak Gerald yang ditulis di rumah sakit sebelum dia menghembuskan napas terakhir.

Untuk adikku, Caroline
Carol, maafkan kakak. Kakak tak sengaja merusak layang-layangmu.
Ketika kamu meninggalkan kakak, kakak sangat khawatir karena kamu belum juga datang. Kakak khawatir hal buruk terjadi padamu di sungai karena kamu tak bisa berenang.
Seandainya kakak bisa berteriak kakak akan memanggilmu. Konsentrasi kakak tertuju padamu sehingga tak menyadari layang-layang itu sudah tersangkut di ranting-ranting pohon.
Maafkan kakak karena telah membuat kamu terluka. Kakak telah gagal membuatmu bahagia.

            “Kak Gerald……………!” aku berteriak sekuat tenaga.
“Maafkan Carol, Kak. Sekarang Carol sendiri. Siapa yang akan menemani Carol lagi?” Aku menutup mataku, terluka. Sangat dalam. Aku benar-benar benci hari ini.
            ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar