Jumat, 17 Oktober 2014

Fabel "Cici Cicak yang Cerdik" Karya Agustin Flaviyana, S.Pd.

Cici Cicak yang Cerdik
 
Cici seekor Cicak yang tinggal di rumah manusia sejak dalam perut ibunya. Ibunya meninggal di makan kucing ketika ia baru berusia tiga minggu. Kini ia tinggal bersama dengan Neneknya. Sedangkan keberadaan Ayahnya hingga saat ini tak ia ketahui. Semenjak ia mulai bisa berpikir, hanya nenek sajalah keluarga yang ia kenal. Nenek merupakan Ayah dan Ibu baginya. Ia sangat menyayangi neneknya itu. Cici cicak tumbuh menjadi anak yang pintar dan baik hati. Dia selalu membantu neneknya bekerja di sarang maupun bekerja mencari makan. Ia mulai khawatir dengan neneknya yang sudah sangat tua itu. Nenek sudah mulai sakit-sakitan.

“Nek, mulai sekarang biarlah aku saja yang bekerja keluar sarang untuk mencari makan. Nenek istirahat saja menunggu sarang.” Pinta Cici kepada neneknya. Namun, neneknya menolak.

“Aku masih kuat untuk mencari makan, Cu. Nenek tak mau membiarkanmu seorang diri berkeliaran di luar sarang. Sangatlah berbahaya. Nenek masih mampu melindungimu.” Sahut nenek sambil mengelus kepala Cici. Walau dalam hati Cici sangat khawatir dengan nenek, namun ia tak berani untuk menentang.
Pagi-pagi sekali Cici sudah bangun. Ia merapikan sarang dan menyiapkan sarapan untuk neneknya. Ketika neneknya bangun, semua pekerjaan rumah sudah beres. Neneknya sangat senang sekali. Setelah selesai sarapan, Cici dan nenek pergi bekerja mencari makan. Makanan buruan yang mereka sukai adalah nyamuk. Mereka harus hati-hati karena ada kucing yang sangat kejam berkeliaran di rumah manusia.

Cici dan nenek sangat senang ketika melihat sekumpulan nyamuk yang sangat banyak dan gemuk-gemuk di balik tirai jendela kamar pemilik rumah. Ketika akan menangkap nyamuk-nyamuk itu, tiba-tiba saja kucing penjaga rumah yang kejam itu datang dan siap menangkap Cici Cicak dan nenek. Mereka berdua sangat ketakutan. Dengan sekuat tenaga Cici dan nenek berlari. Namun sungguh sayang, nenek tak mampu untuk berlari kencang. Cici tak sampai hati untuk meninggalkan nenek seorang diri. Ia tak rela jika nenek menjadi santapan kucing kejam itu. Kucing itu sudah hampir dekat ke arah nenek. Nenek terlihat tak berdaya dan hanya bisa pasrah. Cici sangat sedih. Ia berpikir akan kehilangan neneknya tercinta.
Tiba-tiba Cici mendapat akal.

“Hai ...kucing. Kau sangat pengecut hendak memangsa Cicak yang sudah tua. Tubuhnya sangat keriput dan kurus. Tak lagi banyak daging. Rasanya pun tak lezat. Kau lihat aku. Dagingku padat. Aku masih muda. Tentunya sangat lezat sekali. Tapi, aku yakin Kau tak tertarik memangsaku karena takut. Kau hanya berani dengan nenek tua yang tak berdaya..” hasut Cici dengan tegas. Mendengar ejekkan Cici, kucing itu marah besar.

“Kata siapa aku penakut.?Akulah binatang yang terkuat di rumah ini.” kata Kucing sambil berusaha menerkam Cici. Cici segera lari. Kucing juga terus mengejarnya. Cici kemudian berhenti di depan kandang Dogi si anjing penjaga rumah. Tepat di dekat ekor Dogi, Cici menanggalkan ekornya kemudian bersembunyi di balik kandang. Ekor itu terus bergerak-gerak. Kucing sangat senang sekali melihat ekor Cici yang lincah. Ia sudah tak sabar ingin memakannya.

Kucing itu sangat mudah sekali ditipu. Ia mengira Cici Cicak bersembunyi di balik keset bebulu. Tanpa pikir panjang, Kucing langsung menerkam ekor itu. Namun tiba-tiba saja Dogi bangkit dan memperlihatkan giginya yang tajam kepada kucing. Ternyata ekor Dogi ia kira keset berbulu. Dodi kemudian menggigit ekor Kucing. Kucing lari pontang-panting. Akhirnya, Cici dan nenek selamat.

“Trimakasih Dogi. Kau telah menyelamatkan kami.” kata Cici sambil mengelus ekor Dogi.

“Ini juga berkat kecerdikanmu, Cici. Kau Cicak yang baik dan sayang terhadap nenekmu. Kau adalah Cicak yang cerdik dan pemberani.” Kata anjing samlbil mengelus kepala Cici. Dogi Anjing sangat terharu melihat pengorbananCici terhdap neneknya.

“Trimakasih, Cu. Tapi, nenek tak mau kau mengulanginya lagi. Itu sangat mengancam nyawamu. Biarlah nenek yang jadi korban asalkan kau selamat.”

“Jangan bicara seperti itu, nek. Apa pun akan aku lakukan untuk melindungi nenek. Waktu aku kecil neneklah yang merawat dan melindungiku dari ancaman bahaya. Sekarang sudah sepantasnyalah aku melindungi nenek.’”sahut Cici sambil memeluk neneknya. Setelah keadaan aman kembali, mereka segera pulang ke sarang.
Suatu hari Cici sakit. Ia tak mampu untuk bangun. Kemudian neneknyalah yang bangun pagi-pagi dan merawatnya. Setelah merawat Cici dan memeberi nya obat, barulah nenek berangkat kerja mencari makanan.

“Cu’, nenek mau berangkat mencari makan. Kau baik-baiklah di rumah. Jaga dirimu baik-baik, ya. “ kata nenek pamit sambil mengelus ekor Cici. Cici sangat sedih melihat neneknya berangkat seorang diri. Ia sangat khawatir terhadap neneknya.

“Iya, nek. Kau juga haruslah hati-hati. Jangan sampai nenek bertemudengan kucing jahat itu lagi.” kata Cici sambil mencium dan memeluk neneknya. Air matanya terus mengalir. Cici sangat sedih melihat neneknya yang sudah tua itu

Sudah larut malam, tetapi nenek belum juga pulang ke rumah. Cici sngat khawatir. Ia sedih memikirkan neneknya. Tiga hari berlalu, nenek belum juga pulang. Cici memutuskan untuk mencari neneknya. Alangkah terkejutnya Cici ketika mengetahui neneknya telah tiada. Tikus-tikus yang ada di rumah itu menceritakannya kepada Cici. Cici sangat sedih dan berniat membalas kejahatan Kucing. Ia meminta bantuan tikus-tikus. Mereka mulai mengatur rencana.

Keesokan harinya, Cici menemui kucing dan mengatakan kepada kucing bahwa banyak sekali tikus di atas atap. Mendengar hal itu kucing segera naik ke atap. Ternyata benar, banyak sekali tikus-tikus berkeliaran. Kucing berlari dan melompat ke arah tikus-tikus. Dalam waktu yang bersamaan, tikus-tikus itu melompat ke masing-masing sisi. Namun kucing itu sudah terlanjur melompat dan jatuh tepat di atas jebakan yang dipasang Cici Cicak. Ternyata tikus-tikus itu sengaja berkerumun di depan jebakan itu untuk mengumpan Kucing jahat itu. Kaki kucing terjepit dan mengalami luka. Karena tak dapat menahan tubuhnya, ia kemudian terjatuh dan celaka. Walau dalam hati Cici sudah puas memebalas perbuatan jahat Kucing, namun kesedihannya tak kunjung hilang karena kehilangan nenek yang sangat ia sayangi. Air matanya terus saja mengalir bila teringat dengan pesan terakhir neneknya. Ia tak menyangka jika itu merupakan pertemuan terakhir dengan neneknya.

“Maafkan aku, Nek. Aku gagal melindungimu.” Cici trus menangis mengenang neneknya. Kini ia hidup sebatang kara. (yn)

3 komentar:

  1. Terima kasih ini cerita yang bagus

    BalasHapus
  2. Waaah cerita ini sangat bagus saya sangat menyukainya ada yg sedih ada pula yg senang ,pesan saya tolong buatkan lah cerita yg menarik lagi seperti yang tadi

    BalasHapus
  3. Waah bagus banget cerita ini saya menyukainya ada yang berakhir sedih ada pula yang ceria pesan saya tolongbuat cerita menarik lagi seperti yang di atas

    BalasHapus